Pebisnis Muda

Fannie Ferdiansyah adalah seorang lulusan broadcast di sebuah universitas namun ia memiliki banyak bisnis yangb hanya dimodali dengan nekat. Berawal dari kesukaannya pada roti tawar yang menjadi pendamping bubur kacang hijau, ia mempunyai akal untuk membuat usaha roti. Dengan harga murah, otomatis orang pun tidak akan ragu untuk membeli. Maka, ia tantang adiknya yang sekolah di jurusan perhotelan di sebuah SMK untuki membuat roti dengan modal hanya Rp 50.000,00. Hasilnya lebih enak dari yang biasanya karena adiknya membuat roti seperti pizza atau croissant. Otak bisnisnya langsung jalan dan ia berpikir bahwa jika roti selezat itu dihargai Rp 1.500,00 pasti banyak orang yang ingin beli. Maka dimulailah bisnis roti kecil-kecilannya. Dengan modal dan peralatan dapur seadanya serta ditambah bantuan adiknya dan teman-temannya, ia membuka usaha roti yang dinamainya Roti Lulu. Awalnya ia titipkan rotinya di warung-warung. Mentalnya sempat turun gara-gara sering mendapat penolakan tapi ia tetap berusaha sampai akhirnya bisa mendistribusikannya ke seluruh Bandung. Ia sendiri yang mengantarkan roti tersebut naik motor dan terbukti dari usahanya kini ia mempunyai toko roti sendiri yaitu Rumah Roti Lulu. Lalu ada satu kejadian lagi yang mengubah jalan hidupnya. Semua bernula saat pacarnya meminta pendapat tentang pemasangan internet di tempat kosnya. Ia berkata bahwa ia dapat memberi harga murah dari providernya yaitu Rp 95.000,00 per bulan asal ada 12 orang di tempat kosnya yang ingin memasang internet. Lalu pacarnya berkata oke dan ia langsung termenung dan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya setelah tiga hari mencari info dari sana-sini ia mendapat bantuan Internet Service Provider (ISP) di Jakarta. Bermodal rp 1.500.000,00 jaringan internet itu berhasil terpasang. Setelah itu muncul banyak permintaan dari tempat kos lain dan lagi-lagi ia gunakan untuk berbisnis. Dengan hasil investasi bersama teman-temannya ia mendirikan Simply Web Internet Provider dan berhasil memasang jaringan internet di sepuluh tempat kos. Berbekal pengalaman ia semakin yakin untuk berbisnis. Menurutnya bisnis itu adalah seni. Dan yang membuat ia senang adalah dengan seni ini ia dapat membantu orang-orang untuk mendapat pekerjaan. Maka ia btidak berhenti membuat bisnis yang dapat menciptakan lapangan kerja untuk orang banyak. Bisnis terkahir yang ia buat adalah bisnis server pulsa dengan nama Simply Pratama Komunikasi. Dalam waktu dekat ia berencana membuka laundry di Jimbaran, Bali dan merintis usaha game online. Teman-temannya sering menjulukinya pengusaha nekat atau bahkan orang gila gara-gara berbagai bisnis yang ia geluti. Untuknya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jangan pernah berhenti bermimpi. Sesuatu yang hebat berawal dari mimpi tetapi selalu seimbangkan dengan kegiatan. Saat hari ini ada mimpi tidak ada alasan untuk tidak melakukan apapa untuk mimpimu itu. Make it real, guys!

Comments

Cerita Inspirasi

Sejak lahir, Stephanie Handojo sudah memiliki wajah yang sama sekali tidak mirip wajah kedua orangtuanya. Dokter bilang ia mengalami down syndrome. Perkembangannya akan berjalan lambat dan dibuthkan kesabaran yang luar biasa untuk merawatnya. Beruntung ia memiliki orangtua yang luar biasa. Ibunya bertekad membuat ia menjadi senormal anak lainnya. Ibunya selalu memberinya terapi demi terapi dan membuat sendiri program untuk menstimulasinya.

Sayangnya setelah beberapa bulan, ia masih juga belum mengalami perubahan. Bahkan di usia 8 bulan ia masih juga belum dapat tertawa lepas. Tapi ibunya selalu sabar dan selalu mengajarinya sampai akhirnya ia dapat berjalan sendiri tanpa dipegangi, makan sendiri tanpa disuapi, membuang sampah pada tempatnya, dan perkembangan lainnya.

Akhirnya di usia 20 bulan, ibunya berhasil memasukkannya ke sebuah play group setelah mengalami beberapa penolakan. Di sana ia diberi perlakuan normal hanya saja ia didampingi guru khusus. Ia mendapat kesempatan belajar selama 2 tahun di play group tersebut serta mengalami banyak kemajuan berarti.

Setelah lulus dari play group, ia pindah dari Surabaya ke Jakarta untuk terapi bicara. Pada waktu itu usianya 3,5 tahun tapi kemampuan bicaranya masih kurang. Hamper setiap hari ia diterapi di sebuah rumah sakit dan pada usia 4 tahun ia masuk kelas intervensi di sebuah SLB (Sekolah Luar Biasa).

Menurut guru-gurunya ia adalah murid yang cerdas dan menyarankan agar ia dipindahkan ke sekolah umum. Akhirnya ibunya memindahkan ia ke sekolah umum dan yang ditakutkan pun terjadi. Ia sering diolok-olok oleh temannya dan lebih parahnya lagi ada orang tua yang membuat fitnah dan mengatakan bahwa down syndrome yang dideritanya itu menular. Ia sangat sedih menghadapi hal itu tapi sekali lagi ibunya yang selalu memberikan semangat dan dorongan.

Lalu ibunya menyuruhnya untuk melakukan kegiatan renang dan bermain piano karena menurutnya kegiatan ini bagus untuk anak penderita down syndrome untuk melatih gerakan lebih lancer lagi. Ia sempat trauma saat ia hamper tenggelam saat sedang latihan berenang. Perlu tiga tahun untuk ia dapat memulai kembali dan menekuni latihan renang itu sampai akhirnya ia mendapat berbagai juara. Ia pernah mendapat juara 1 di kejuaraan Porcada (Pekan Olahraga Penyandang Cacat Daerah), juga jadi juara di ajang Singapore National Swimming Championship, 7th Special Olympics Singapore National Games, Porcanas (Pekan Olahraga Penyandang Cacat Nasional), Popcanas (Pekan Olahraga Pelajar Penyandang Cacat Nasionak).

Selain menjuarai kegiatan renang, ia juga pernah tampil memainkan piano di berbagai acara. Dan ia tecatat dalam rekor MURI atasĀ  rekor anak down syndrome mampu memainkan 22 lagu dengan piano. Dari semua kegiatan itu ia mendapat pengalaman yang begitu luar biasa. Salah satu yang paling berkesan yaitu ia pernah tampil memainkan piano bersama Giring Nidji di sebuah program televisi. Semuanya benar-benar menjadi pengalaman yang berharga untuknya yang tidak dapat dibayar dengan apapun. Maka ia bertekad untuk belajar lebih baik lagi agar dapat lebih berprestasi.

Comments